“Old School” Menuju Center of Excellence: Transformasi BPAFK Jakarta
Transformasi sebuah institusi sering kali tidak dimulai dari dokumen perencanaan yang tebal, melainkan dari kesadaran sederhana bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Saya masih mengingat pertemuan pertama dengan Kepala BPAFK Jakarta saat itu. Momen tersebut terjadi ketika serah terima jabatan berlangsung. Di aula pertemuan lantai 4, hanya ada saya seorang diri. Kami saling memperkenalkan diri secara singkat.
“Perkenalkan, Pak. Saya Irfan Yanis, Humas BPFK Jakarta,” ujar saya kala itu.
Beliau menjawab singkat. Namun, ada satu hal yang langsung terasa: tatapan beliau seolah sedang mengamati dan menilai kondisi kantor yang saat itu masih sangat terasa “old school”.
Sebagai sosok yang pernah berkarier di sektor perbankan seperti Bank Central Asia dan Bank Mandiri, beliau memiliki perspektif berbeda mengenai tata kelola, budaya kerja, dan standar profesionalisme. Pengalaman di Kantor Pusat Kementerian Kesehatan turut membentuk cara pandang tersebut. Dari titik itulah transformasi besar dimulai. Di bawah kepemimpinan tersebut, BPFK Jakarta bertransformasi menjadi Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan (BPAFK) Jakarta dengan status Badan Layanan Umum (BLU). Pencapaian ini menjadikan BPAFK Jakarta sebagai balai pertama di lingkungan Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan yang memperoleh status BLU, sekaligus mencatat capaian pendapatan terbesar. Transformasi ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan perubahan budaya kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan. Status BLU membuka ruang bagi fleksibilitas pengelolaan, percepatan inovasi, dan peningkatan kualitas layanan. Dalam konteks pelayanan publik, status tersebut menjadi fondasi penting menuju institusi yang lebih adaptif, responsif, dan berorientasi pada kualitas.
Namun, transformasi sejati tidak berhenti pada perubahan status.
BPAFK Jakarta kemudian memperkuat layanan teknis secara signifikan. Pengembangan laboratorium uji alat kesehatan, penguatan laboratorium kalibrasi, hingga peningkatan layanan pengujian dilakukan secara bertahap, terarah, dan berkelanjutan.
Salah satu langkah strategis yang menonjol adalah pengembangan fasilitas uji Electromagnetic Compatibility (EMC). Di era alat kesehatan berbasis elektronik, EMC bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Gangguan elektromagnetik dapat menyebabkan alat kesehatan tidak bekerja secara optimal, bahkan berpotensi menimbulkan risiko terhadap keselamatan pasien. Hadirnya fasilitas EMC menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan BPAFK Jakarta sekaligus memperkuat kemandirian nasional dalam pengujian alat kesehatan. Jika sebelumnya sebagian pengujian masih bergantung pada laboratorium di luar negeri, kini kapasitas tersebut mulai dibangun dan dikembangkan di dalam negeri. Transformasi juga tampak nyata pada aspek fisik dan infrastruktur. Gedung belakang yang dahulu dikenal sebagai Gedung 9X, yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, kini telah bertransformasi menjadi laboratorium uji produk alat kesehatan yang modern dan berstandar tinggi. Fasilitas ini dilengkapi dengan ruang EMC serta berbagai sarana pengujian lainnya.
Perubahan tersebut bukan sekadar renovasi fisik, melainkan simbol lompatan kapasitas: dari ruang yang pasif menjadi pusat pengujian dengan standar global.
Selain penguatan infrastruktur, BPAFK Jakarta juga membentuk BPAFK Academy, sebuah lembaga pelatihan yang telah terakreditasi oleh Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan dan memperoleh pengakuan dari BAPETEN. Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia.
BPAFK Academy juga menjalin kerja sama dengan John Robert Powers melalui program Grooming, Glowing, and Growing yang bertujuan meningkatkan kualitas SDM, tidak hanya dari sisi kompetensi teknis, tetapi juga profesionalisme, kepercayaan diri, dan pembentukan karakter. Melalui pendekatan ini, peserta dibekali pemahaman mengenai grooming yang tepat, personal branding, serta etika berpenampilan yang mencerminkan integritas dan profesionalisme. Hal tersebut juga pernah saya sampaikan secara langsung di hadapan Menteri Kesehatan pada acara Townhall Budaya Kerja Kementerian Kesehatan Januari 2026 lalu. Diversifikasi layanan pun terus dilakukan melalui pembentukan Lembaga Sertifikasi Produk (LSP) serta pengembangan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Langkah ini menandai perubahan peran BPAFK Jakarta menjadi institusi layanan yang lebih komprehensif dan multidimensi.
Di saat yang sama, pembenahan manajemen internal juga dilakukan melalui penggabungan laboratorium guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.
Transformasi BPAFK Jakarta menunjukkan bahwa perubahan di institusi pemerintah bukanlah sesuatu yang mustahil. Dengan kepemimpinan yang kuat, arah yang jelas, serta keberanian untuk terus berbenah, sebuah institusi dapat berkembang menjadi center of excellence.
Lebih dari itu, transformasi ini merupakan bagian dari upaya besar dalam membangun sistem kesehatan nasional yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing.
Perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Namun, ketika dijalankan secara konsisten, perubahan tersebut mampu menghasilkan dampak yang luar biasa.