Oleh:
Irfan Yanis Dalam
sepak bola Italia, strategi bertahan dikenal dengan istilah catenaccio.
Ia kerap dipersepsikan defensif, bahkan kurang atraktif. Namun justru dari
disiplin pertahanan inilah sebuah tim bisa bertahan menghadapi tekanan
terberat. Catenaccio bukan tentang bermain aman tanpa visi, melainkan
tentang memastikan sistem tetap kokoh dalam kondisi paling sulit. Pelajaran
serupa relevan ketika kita berbicara tentang ketahanan alat kesehatan nasional.
Pandemi COVID-19 menjadi pengalaman kolektif yang membuka mata banyak pihak.
Saat rantai pasok global terganggu, ketersediaan alat kesehatan menjadi
persoalan serius. Negara-negara yang tidak menyiapkan pertahanan sistem sejak
awal harus membayar mahal. Dalam
konteks inilah kepemimpinan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI, Lucia Rizka Andalucia, dapat membaca. Pembentukan dan
penguatan Direktorat Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan menunjukkan pergeseran cara
pandang: dari sekadar respons darurat menuju pembangunan pertahanan sistem yang
berlapis dan berkelanjutan. Langkah-langkah
yang ditempuh mungkin tidak selalu terlihat spektakuler. Penguatan industri
alat kesehatan dalam negeri, pembenahan distribusi nasional, serta “ditariknya”
peran pengujian/kalibrasi, dan sertifikasi kerap terdengar teknis dan jauh
dari hiruk-pikuk wacana publik. Namun justru di sanalah ketahanan dibangun. Bagi
masyarakat, dampak dari pendekatan ini sesungguhnya sangat nyata. Ketersediaan
alat kesehatan menjadi lebih terjamin, mutu produk lebih terjaga, dan negara
tidak mudah panik ketika krisis datang. Pertahanan sistem yang kuat bekerja
dalam diam, tetapi manfaatnya dirasakan ketika situasi genting. Catenaccio
sering dikritik karena dianggap terlalu berhati-hati. Namun dalam urusan
kesehatan publik, kehati-hatian justru merupakan bentuk tanggung jawab. Negara
tidak boleh menunggu krisis untuk berbenah. Pertahanan harus dibangun sebelum
ancaman benar-benar datang. Ketahanan
alat kesehatan pada akhirnya bukan sekadar urusan kebijakan teknis. Ia adalah
fondasi rasa aman masyarakat. Ketika alat kesehatan tersedia dan mutu terjamin,
pelayanan kesehatan dapat berjalan lebih tenang dan berkelanjutan. Catenaccio
ketahanan alat kesehatan ala Lucia Rizka Andalucia menunjukkan bahwa
strategi bertahan bukan tanda kelemahan, melainkan pilihan sadar untuk
melindungi. Dalam dunia yang semakin rentan terhadap krisis, pertahanan sistem
inilah yang justru menjadi kunci keberlanjutan.
Dalam
dunia yang kian rapuh oleh krisis, ketahanan alat kesehatan bukan tentang
kebijakan yang ramai dibicarakan, melainkan tentang sistem yang bekerja tanpa
banyak suara, sebuah difesa silenziosa (pertahanan bekerja dalam senyap)
yang menjaga keselamatan publik jauh sebelum ancaman datang.
Ketua Tim Kerja Kemitraan dan Bimbingan Teknis
Editor: Subadri
Kepala BPAFK Jakarta